Catatan Kritis Terhadap Pemberitaan Kadis Kominfo Ariansyah Tampil Berkelas dengan Video AI

Oleh: Nazli*

BERIKUT saya sampaikan beberapa catatan dan pertimbangan kritis terhadap pemberitaan ini; “Tampil Berkelas dengan Video AI, Kadis Kominfo Ariansyah Soroti Peran KIM sebagai Akselerator Informasi” di situs ZonaBrita (https://zonabrita.com/tampil-berkelas-dengan-video-ai-kadis-kominfo-ariansyah-soroti-peran-kim-sebagai-akselerator-informasi/):

1. Sudut pandang positif yang dominan tapi minim kritisisme;

Porsi besar dalam tulisan ini memuji aksi Kadis Kominfo Ariansyah, terutama penggunaan video AI untuk “tampil berkelas” dan perannya sebagai penyokong KIM (Kelompok Informasi Masyarakat). Namun, pemberitaan ini kurang mengemukakan pertanyaan-pertanyaan kritis, misalnya:

Apakah penggunaan video AI ini benar-benar efektif dalam komunikasi publik? Atau hanya alat “pamer teknologi”?

Apa tantangan teknis atau etisnya (konten palsu, manipulasi, bias AI)?

Adakah resistensi atau kritik dari peserta KIM atau masyarakat terhadap pendekatan ini?
Dalam pemberitaan publik yang melibatkan pejabat, idealnya ada keseimbangan antara apresiasi dan pengujian (scrutiny) agar pembaca tidak sekadar menerima narasi “pemkot/instansi bagus” tanpa telaah.

2. Fokus pada citra, bukan isi atau dampak;

Berita sangat menekankan aspek “kepiawaian tampil” lewat video AI, kata-kata seperti “mencuri perhatian publik”, “kagum”, “mantap dan berkelas”. Ini berpotensi menjadi “publikasi citra” (image building) daripada pelaporan substansi:

Misalnya, seberapa jauh penggunaan AI ini benar-benar menjangkau masyarakat di desa, atau yang tak memiliki akses digital?

Apakah video AI tersebut disertai dengan narasi yang mudah dipahami, transparan, dan akurat?
Apakah ada ukuran dan indikator dampak komunikasi melalui video AI dibanding metode tradisional?

Jika media terlalu fokus pada estetika dan citra teknologi, pembaca bisa dibawa terkesan “keren” tanpa memahami apakah manfaatnya signifikan.

3. Kurangnya data dan bukti konkret;

Beberapa klaim dalam berita seperti “Peran KIM sangat krusial sebagai akselerator informasi” atau bahwa KIM dapat “mempermudah akses masyarakat terhadap informasi resmi” tidak dilengkapi data empiris:

Tidak disebutkan survei atau riset yang menunjukkan kenaikan penetrasi informasi di daerah yang menggunakan KIM aktif.

Tidak ada pendapat atau pernyataan dari masyarakat penerima informasi (suara dari basis) sebagai pembanding.

Tidak ada pembahasan hambatan infrastruktur (sinyal, perangkat) yang mungkin melemahkan efektivitas.

Tanpa data, klaim-klaim tersebut bisa menjadi retorika institusional semata.

4. Potensi risiko dan sisi gelap teknologi AI;

Penggunaan video AI dalam penyampaian informasi publik membawa potensi risiko yang tidak disentuh dalam narasi:

Manipulasi visual atau deepfake: jika teknologi ini disalahgunakan, bisa muncul konten yang tampak resmi tetapi disunting atau dipalsukan.
Kredibilitas dan keaslian: masyarakat mungkin skeptis terhadap wajah/isi yang tampak “terlalu mulus”, bertanya apakah itu benar dari pejabat atau hasil generatif ?

Akses tak merata: daerah terpencil atau masyarakat kurang melek digital bisa kesulitan menerima informasi berbasis AI/video.
Tulisan media idealnya menyertakan catatan kritis ini agar pembaca tetap waspada terhadap sisi negatif.

5. Peran media dalam “mengawal” otomatisasi informasi;

Sebagai media, ada tanggung jawab dalam “mengawal” proses transformasi digital di pemerintahan. Beberapa hal media perlu aktif lakukan:

  • Meminta transparansi algoritma atau bagaimana video AI dijalankan.
  • Menguji akurasi konten yang disajikan lewat alat digital tersebut.
  • Menyuarakan sudut pandang masyarakat yang mungkin merasa tertinggal.

Dalam berita ini, media tampak lebih sebagai “jembatan publikasi resmi” daripada penyeimbang (watchdog) terhadap penggunaan teknologi oleh pejabat.

6. Saran agar pemberitaan lebih kuat dan seimbang;

  • Untuk meningkatkan kualitas pemberitaan ke depan, berikut rekomendasi:
  • Libatkan suara masyarakat & peserta KIM, agar dapat mencerminkan realitas dampak di lapangan.
  • Bandingkan metode lama vs AI, tampilkan data perbandingan efektivitas.
  • Tampilkan risiko dan tantangan, agar publik dapat memahami bahwa teknologi bukan sekadar solusi tanpa konsekuensi.
  • Kedalaman jurnalisme, bukan hanya melaporkan acara dan kata-kata pejabat, melainkan menganalisis makna, hambatan, dan implikasi jangka panjang.

*pengamat sosial dan politik, tinggal di Jambi

Pos terkait